10 TESTIMONI DARI SEP MUDIKA 13

10 TESTIMONI DARI SEP MUDIKA 13

Apa saja sih pengalaman yang didapatkan selama mengikuti SEP Mudika 13 di tahun 2015 ini? Berikut adalah 10 testimoni terpilih yang kami tampilkan di blog post kali ini. Semoga pengalaman dari 10 teman kami ini bisa menginspirasi kalian para pembaca, khususnya calon SEP Mudika 14 tahun 2016 nanti. šŸ™‚
Selamat membaca!
Ayu

Dengar tentang SEP Mudika Shekinah dari pacarku yang sekarang sudah menjadi suami (lulusan SEPM 11).
Dari dulu merasa kata ā€˜Evangelisasiā€™ itu adalah sesuatu yang berat banget, karena artinya menginjili orang lain jadi ga pernah PD/berani untuk nanya-nanya apalagi daftar ikut SEP Shekinah ataupun KEP di paroki.

Natal 2014 aku dan orang tuaku ikut Ret Natal Keluarga yang diadakan oleh Shekinah. Di situ setiap peserta dibagi berdasarkan kelompok usia, aku masuk Mudika. Sesi2 dilalui bersama teman2 Mudika dan ada juga yang semuanya digabung. Di salah satu sesi yang diisi oleh pasutri Glenn Tumbelaka ā€“ Heidi Awuy sharing bagaimana mereka mendidik anak-anak sedari dini agar bs membedakan mana yg baik, benar dan mana yg tidak ; yaitu dengan menanamkan iman dan pengetahuan akan Tuhan sejak awal. Dengan begitu, mereka sebagai orang tua tidak terlalu kuatir akan pergaulan anak-anak di jaman sekarang ini karena dasar iman mereka sudah dipupuk dari kecil. Doa, baca Alkitab, ke gereja bersama-sama dan aktif di kegiatan-kegiatan gereja.
Dari situ, aku terbuka dan ingin tau lebih banyak tentang iman Katolik yang aku rasa masih kurang.
Akhirnya mencoba mendaftar walau awalnya ada sedikit konflik dengan pasangan. Tapi puji Tuhan aku bisa ikut semua pengajaran SEPM 13 dari awal sampai selesai.
Semoga pengalaman ikut SEP Mudika dpt membuatku menjadi orang yg lebih baik lagi terutama ketika menjadi orang tua kelak.

Yang pasti ga rugi pernah menjadi bagian dalam keluarga SEP Mudika yg gokil, seru, berwarna dan kompak.
Tuhan memberkati kita semuaā€¦

Cavin

Dua atau tiga tahun lalu gw ditawarin ikutan SEPĀ Mudika. Tapi ketika saat itu gw malah nolak karena nganggep kalo skripsi gw belum selesaiĀ dan semester akhir pasti padet banget dan tidakĀ sempat. Dari testimoni senior SEP MudikaĀ itu asyik dan beda banget dari komunitas2 mudika lainnya.

Kemudian di awal thn 2015, entah kenapa kerinduan untuk berkomunitas sangat tinggi. Gw mengharapkan suatu komunitas Katolik untuk mengisi diri gw lagi. Ingin rasanya merasakan kasih Tuhan lagi. Akhir januari 2015, SEP MudikaĀ mengadakan rekoleksi. Disana gw ketemu orang-orang baru yang sama sekali ga gue kenal. Jujur awalnya awkward sih. Tapi kemudian dalam rekoleksi ketika pencurahan roh muncul suatu rasa sakit seperti ketika Tuhan Yesus disalibkan. Sejak saat itu gw sadar betapa baiknya Dia telah mengorbankan diri bagi kita manusia. Selain itu, ketika pemilihan ketua kelas tiba-tiba gw dijorokin sama teman-temanĀ SEP Mudika. Jujur awalnya gw ragu mampu ga mengemban tanggung jawab ini.

Kelas SEP MudikaĀ diadakan setiap hari Senin dan Rabu dari jam 6-9 malam. Awal Februari 2015 ā€“ Juni 2015 adalah masa-masa proses dalam SEPĀ Mudika. Di dalam kelas kita akan dibagikan tugas untuk pujian, brosur dan konsumsi. Setiap 2 kelas akan dibawa oleh seorang pewarta. Jujur gw kaget karena tiap pewarta yg datang keren-keren semua dan top classpewarta Katolik di PDKK. Mereka memberikan poin-poin baru mengapa gw mesti kenal sama Tuhan dan pelayanan. Selain itu, di tengah-tengah pengajaran kita juga sempat menggadakan Fellowship Indoor dan Outdoor. Fellowship OutdoorĀ SEP Mudika 13 pergi ke Kebun Raya Bogor. Di akhir pengajaran akan ada kelas pengembangan talenta yaitu tarian,praise and worship,Ā dan drama.

Ga terasa 5 bulan pengajaran selesai. Di penghujung SEPĀ kita akan diutus di retret perutusan. Di retus ini kita akan pergi retret bersama SEP Eksekutif (SEPEX) dan SEPĀ Umum, lalu kemudian diutus bersama. Kemudian ada momen pelantikan dan pembagian sertifikat SEPĀ yg dimasukan dalam inagurasi SEP. Dalam inagurasi SEPĀ ini akan diadakan lomba untuk memperebutkan kelasi cup. Di inagurasi tahun 2015, SEPĀ Mudika berhasil meraih trofi kelasi cup untuk pertama kalinya!!!!! Akhirnya kita berhasil membuat pecah telor dan menciptakan sejarah bagi SEPĀ Mudika di Shekinah. Feeling very awesome!!

Last but not least, acara penutupan dari SEPĀ Mudika adalah Outbound. Di Outbound SEPĀ Mudika banyak hal seru yang gw dapatkan mulai dari games, kekompakan sampai mengajarkan kita agar melawan rasa takut! What a memorable moment!

Kesimpulan:

ikut SEPĀ Mudika adalah keputusan terbaik dalam pengembangan rohani gw. Karena disinilah kita bisa bertumbuh bareng dan berproses bersama. Perubahan dalam diri gw sangat-sangat terasa dan pelayanan ke Tuhan bukan lah suatu beban lagi. Selain itu, gw juga banyak mendapatkan pelajaran dari teman-teman seiman yang udah struggle. Sekarang hidup mendoa gw juga sudah berubah 180 derajat. Thank youĀ SEPĀ Mudika. You have changed my life ā¤. Kesibukan gw sebagai ā€˜koasā€™ bahkan bukanlah merupakan halangan bagi gw dalam mengikuti kegiatan SEP, bahkan setelah mengikuti SEPĀ seperti semua hal dilancarkan olehNya.

Citra

Sudah sejak 4 tahun lalu saya penasaran di SEP itu ngapain aja sih? Tapi baru bisa kesampain ikut di tahun 2015 ini. Tepat disaat sedang merasa haus untuk mengisi diri sendiri untuk bisa lebih mengenalNya lebih lagi. Saya sungguh merasa bersyukur karena sudah mengambil keputusan yang tepat. Walau diawalnya sempat merasa ragubisa ikut full karna pertemuannya berlangsung seminggu dua kali. Sedangkan pekerjaan di bulan Januari ā€“ April itu sedang sibuk-sibuknya, kelas juga dimulai dari jam 6 sore, jam yang cukup hectic dari jam bubaran kerja. Dan berarti saya harus pulang teng go dari kantor. Hari pengajarannya juga bentrok dengan waktu latihan tarian yang sudah saya tekuni selama ini. Tapi kalau Tuhan sudah berkehendak, segala keraguan dan rintangan yang sempat mampir itu, satu persatu dibukakan jalannya sehingga bisa ikut setiap pertemuan dengan lancar sampai akhirnya.Amazing..

Sungguh ga pernah kepikir sebelumnya dengan anugrah yang saya dapatkan di kelas SEP ini. Di setiap kelas pengajarannya, dari hari ke hari pengetahuan iman katolik saya semakin bertambah, mendapat input yang positif dari setiap pengajaran yang disampaikan oleh pengajar yang oke-oke. Disini pun saya menemukan komunitas keluarga baru yang saling mendukung, bertumbuh bersama dalam berbagai kegiatan rohani dan pelayanan. Pengalaman berkompetisi di Inagurasi, bekerja sama, persiapan event, kekompakan, kebersamaan yang kental sehingga membawa kami memenangkan trofi yang belum pernah dimenangkan selama ini bareng teman-teman sekelas itu rasa SUKACITA nya sungguh sulit diungkapkan dengan kata-kata. Bahkan Tuhan memakai salah satu event yang diadakan sebagai wadah untuk mengajarkan bagaimana caranya untuk mengalahkan rasa takut. Pengalaman pribadi denganNya didapatkan dan pemulihan pun terjadi. Teman-teman di luar bahkan meneguhkan bahwa saya sekarang terlihat begitu enjoy dan lebih lagi bersukacita.Really extremelly grateful.. GOD is good!!!

Dainty

Awalnya mengikuti SEP ini berasa aneh dan sangat teoritis karena hampir semuanya berasal dari buku. Jarang dari luar buku paket yang diberikan. Belum lagi teman-temannya jauh lebih tua dan sudah bekerja, atau yang masih sekolah. Oleh karena hal ini sempat terbersit untuk berhenti, karena merasa membuang waktu dan dapat belajar langsung dari buku saja tanpa harus mengikuti kelas.
Seiring berjalannya waktu dan tidak tahu kenapa, keinginan saya untuk berhenti menjadi hilang. Ternyata saya mendapatkan hal-hal yang tidak seteoritis yang ada di buku. Saya mendapatkan yang lebih aplikatif, seperti pengetahuan baru mengetahui karakter orang lain, beradaptasi dengan lingkungan baru, tentang grafik iman yang menyadarkan saya tentang pertumbuhan iman saya, serta masih banyak lagi yang tidak bisa saya terangkan satu persatu. Tetapi yang jelas, saya mendapatkan lebih dari sekedar yang tertulis di buku paket yang diberikan.
Perasaan yang didapat dari SEP ini adalah rasa nyaman yang paling besar. Saya sangat nyaman pada akhirnya dengan lingkungan baru ini. Teman-teman yang meskipun jarak umurnya dan latar belakangnya sangat berbeda satu sama lain, tetapi bisa menjadi keluarga yang seru di SEPM 13. Full of happiness ā˜ŗ
Di SEPM 13 kita juga diberikan wadah untuk lebih akrab satu sama lain, ada fellowship indoor dan outdoor, ret-ret perutusan maupun outbound yang semuanya sangat menarik dan membangun kedekatan yang intim. Di SEPM 13 ini juga saya belajar untuk bertegang rasa dengan sesame, melalui tugas kunjungan rumah dan kunjungan untuk bakti social. Dari SEPM 13, saya belajar sangat banyak, tidak hanya mengerti lebih lagi tentang Katolik, tetapi juga mendapatkan keluarga baru dalam Tuhan karena pada awalnya kita disatukan dalam kelompok yang tidak saling kenal dan menjadi akrab seiiring berjalannya waktu.

Felicia Tanzil

Sebenarnya sudah bertahun-tahun dengar tentang SEP di Shekinah, tapi baru tahun 2014 kemarin akhirnya daftar. Ketika sudah bulan Januari, mulai diingatkan kembali tentang SEP yg akan mulai bulan Februari, baru mulai stress. Pekerjaan di kantor tiba-tiba menjadi hectic dan SEP akan dimulai segera, dua kali seminggu di jam pulang kerja. Oh no!

Cuma bisa percaya dengan intervensi Tuhan dan bahwa semua sudah diatur tepat pada waktunya. So, jalanin aja.

Saya ikut SEP bareng teman baik saya. Senang sekali ada teman yg ikut karena bisa saling menyemangati ketika semangat sedang turun ataupun kerjaan di kantor sedang banyak-banyaknya dan bisa saling info ketika salah satu tidak bisa hadir.

Ternyata setelah dijalani, SEP ini menarik juga karena kita mendapat banyak sharing tentang pengalaman evangelisasi dari yang sudah berpengalaman, kenapa kita perlu melakukan itu, cara-cara melakukan evangelisasi dan bahkan ada latihannya dahulu sehingga tidak kaget.

Ikut SEP ini, yang paling terasa adalah semangat untuk menyebarkan kabar baik meningkat jauh. Dari yang dulunya tidak berani banyak berbagi tentang hal-hal yang berbau religius, hanya berani share ke teman-teman dekat, menjadi lebih berani dan penuh dengan kegembiraan dalam berbagi. Sampai orang-orang kantor ikut memberi komentar balik yang positif tentang keikutsertaan dalam SEP ini, padahal mereka berasal dari latar agama yang berbeda. Semakin mendekati akhir, justru semakin rindu untuk ikut kelas SEP lebih banyak lagi.

Di SEP ini juga saya bertemu dengan banyak teman-teman seiman yang semangat dalam pelayanan dan rindu akan Tuhan menimbulkan harapan bahwa ternyata iman Katolik masih memiliki banyak generasi penerus. Angkatan saya sangat kompak, seru dan tetap selalu ingat akan Tuhan. Rasa takut pun tergantikan oleh sukacita.

Setelah lulus SEP, tidak berarti sudah selesai begitu saja, tapi justru merupakan awal untuk melakukan evangelisasi di dalam masyarakat, yaitu teman-teman kita di kantor, sekolah dan tempat lain, komunitas baik Katolik ataupun komunitas lainnya, dan terutama dalam keluarga.

Walaupun kadang masih ada rasa malas, pekerjaan mendesak dan berbagai halangan lainnya, tapi sukacita yang terbangkitkan lewat SEP tetap ada. Dan itu yg saya mau bagikan dan saya harap teman2 juga bisa rasakan nantinya. Terima kasih, Tuhan memberkati.

Kele

Awalnya ikut SEP itu bingung, ga ada temen yang dikenal, materi tiap pertemuan mingguannya juga ngebingungin, ga tau apa yang dibahas. Mungkin semua kebingungan itu karena gw merasa kurang nyaman karena berada di komunitas yang baru. Tapi semua rasa kurang nyaman itu akhirnya hilang karena teman ā€“ teman yang luarbiasa dan tak terduga hahaha.
Pergaulan di SEP juga sangat positif, karena diisi oleh orang ā€“ orang yang selalu berfikir positif dan semua saling mendukung walaupun kadang ada sedikit gesekan sebagai pelengkap hahahahaha. Karena pergaulan asik di SEP inilah, akhirnya gw bisa ngikutin materi ā€“ materi yang diberikan, sharing ā€“ sharing para pembicara yang punya pengalaman nyata dalam hidup mereka.
Akhirnya setelah menjalani semua rangkaian kegiatan dari awal sampe akhir dan mengikuti prosesnya, gw ga merasa rugi bergabung dengan SEP ini karena banyak banget yang udah gw dapetin teman baru, kominutas baru, pengalaman baru, cara berfikir yang baru, grup WA baru yang selalu aktif dan ā€œberanak cucuā€, dan masih banyak lagi.
Sebuah komunitas yang diselenggarakan oleh Tuhan pasti akan selalu menghasilkan buah yang baik bila prosesnya dijalani dengan taat sampai akhir dan itu lah SEP.

Nella

Sekolah Evangelisasi Pribadiā€¦?! Ini ada di wish list gue dari 5 tahun lalu yang akhirnya terealisasi di tahun 2015. Gue ikut kelas dalam keadaan yang sama sekali nggak baik, di salah satu titik terendah dalam hidup gue. Tapi, satu hal yang gue inget, pesan Om Heru sebagai kepala sekolah di Rekoleksi awal ā€œBuka hati dan biarkan Roh Kudus bekerja!ā€.
Apa yang terjadi selama 4 bulanā€¦?! Biasa ajaā€¦ Senin-Rabu harus cepet balik kantor dan langsung ke Shekinah. Duduk manis dengerin pengajaran, menanti jam 9, lalu pulang. Nah, trus..? Jadi punya banyak kenalan baru? Iya betul, tapi semua temen biasa aja. Jadi punya pengetahuan Katolik? Iya sih, jadi tahu banyak tentang janji Tuhan. Jadi semakin rajin ke gereja? Mmā€¦masih bolong juga tuh.
Dan akhirnya gue kaget banget begitu ada pengumuman kalau rangkaian pembelajaran ini akan ditutup dengan Retret Perutusan tepat tanggal ulangtahun gue. Gue berangkat dengan sedikit rasa terpaksa karena tahu kalau nggak akan ada yang spesial kali ini. Hasilnya, selama 3 hari 2 malam itu, Tuhan menasehati gue dengan cara super lembut yang buat gue sadar, yang buat gue berubah 180 derajat melihat proses hidup gue, yang buat gue mengerti kalau rencana Tuhan itu SEMPURNA dan IN TIME.
Menjadi bagian dari SEPM 13 adalah hadiah ulangtahun terindah dari Tuhan. Peserta SEPM 13 bukan lagi sekedar kenalan, bahkan ini KELUARGA gue. Alkitab bukan lagi sekedar identitas, bahkan jadi satu-satunya HARAPAN gue. Misa bukan lagi sekedar rutinitas, bahkan jadi MOMEN PENTING gue tiap minggu.
So, find your SPECIAL GIFT from Our Father in SEPM 14..!!! God bless..

Stephen Septian

Sekolah Evangelisasi Pribadi? Sekolah pendalaman iman dan rohani? Apakah perlu saya masuk SEP?
Awalnya ini yang terbesit setelah saya mendapatkan brosur yang dibagikan di Gereja tahun 2014.

Setelah saya tidak menindaklanjutinya, ternyata pada Januari awal 2015, cerita itu datang kembali melalui Ketua Lingkungan Gereja kami, Tante Mega yang bercerita tentang SEP ini kepada kami setelah misa natal wilayah 1,OMK Bunda Hati Kudus, Kemakmuran.

Awalnyapun saya masih ragu untuk ikut SEP, apalagi jika jadwalnya ada di hari Rabu, dimana tidak akan bisa ikut karena berbenturan dengan jadwal saya yang lain, tetapi entah dorongan darimana, saya tetap datang dalam seleksi dan wawancara. Dalam pikiran saya saat itu, rasanya okelah buat dicoba terlebih dahulu. Dan dari sinilah ceritanya dimulai. šŸ™‚

Setelah mengikuti rekoleksi dan mulainya kelas, awalnya hanya merasa biasa saja, tetapi seiring berjalannya waktu dan beberapa kali sesi pengajaran, ada rasa keingintahuan yang begitu mendalam untuk mengenal iman Katolik. Saya dibaptis secara Katolik saat berumur 1 tahun, dan selama SD sampai SMA sayapun disekolahkan di sekolah Katolik. Namun, apa yang saya pelajari di SEP ini membuat saya sadar bahwa iman Katolik itu begitu kaya, dan sempat terlintas juga di pikiran ā€œDarimana saja saya selama ini?ā€.

Banyak refleksi pribadi yang saya tanyakan kembali ke diri saya pribadi, dan mulai membuka hati agar lebih terbuka untuk mengenal dan menyadari kehadiranNya. Mungkin ketika proses ini berlangsung, saya merasakan Tuhan menyentuh saya melalui berbagai hal dan pengalaman sehari-sehari.

Pertanyaan-pertanyaan pun mulai terjawab dan jalannya pun selalu diberikan yang terbaik. Sulit digambarkan bagaimana rasanya ketika proses demi proses ini kami lewati bersama, tapi saya cuma yakin bahwa Tuhan mau membentuk saya lebih dan lebih baik lagi.

Mungkin dalam keadaan ketika saya mau ikut SEP, saya mungkin merasa belum membutuhkannya saat itu, namun ibaratkan kita adalah air di sebuah gelas, mungkin secara penglihatan air itu bersih, namun andai air itu dibekukan menjadi es, kotoran yang tidak kelihatan di air, tetapi jika dilihat di dalam es, akan menjadi tampak. Begitupun halnya dengan saya, mungkin pada awal dan proses ketika saya menjalani SEP ini, saya tidak mengetahui tujuannya untuk saya, tetapi Tuhan mengerti, dan Tuhan ingin menyempurnakan saya melalui segala rencanaNya.

Dan SEP ini awalnya memang bukan rencana saya, tetapi saya yakin Tuhan Yesus terus mengetuk pintu hati saya, meskipun pada awalnya saya belum membuka, entah tidak mau atau tidak mengerti cara membukanya. Tetapi seiring berjalannya waktu, akhirnya saya merasa SEP ini merupakan media penolong saya dimana saya ditunjukkan sebuah CARA untuk membuka lebih lebar pintu hati saya yang kadang memang berfikir kritis dan penuh logika.

Ibarat listrik dan angin yang tidak kelihatan wujudnya tetapi efeknya dapat kita rasakan, mungkin sama juga dengan kita, meskipun kita tidak pernah melihatnya secara langsung, tetapi pasti efek kasihnya kita dapat rasakan. Dan dari kebersamaan memulai SEP sampai saat ini, saya merasakan begitu banyak kasih dan sukacita yang tidak bisa tergambarkan.

Akhir kata, satu kesempatan dan pengalaman yang luar biasa dapat bergabung dan menjadi bagian di dalam SEPM 13 ini. Setelah menyelesaikan SEPM13, kami pun ingin terus punya semangat melayani, dan dimulai dengan melayani angkatan SEPM14 dan tentunya terus aktif mengembangkan iman dan diri kita menjadi bagian-bagian dalam pelayanan dan teladan Kristus. Karena, saya percaya bahwa jika Tuhan Yesus mempercayakan kita untuk hal-hal kecil dan kita melakukan dengan taat dan setia, maka pastinya kita akan dipercayakan hal-hal yang lebih besar lagi. šŸ™‚

Victor

Saya mendapatkan info mengenai sekolah shekinah ini sudah sejak lama, berulang-ulang kali ajakan dari teman untuk mendaftarkan diri saya tolak, dengan alasan belum siap. Akhir Desember 2014, saya diajak kembali karena akan mulai pendaftaran angkatan baru yang mulai awal Januari 2015. Di situ saya memiliki sedikit keinginan untuk ikut, ditambah mendengar teman-teman kerabat ikut makin menambah semangat saya. Nama saya didaftarkan dan di follow up oleh panitia SEPĀ sebelumnya. Dan tiba saatnya saya mengikuti pendaftaran dan wawancara untuk mengikuti SEP MudikaĀ Shekinah ini. DiĀ situ saya diwawancara kak Berna dengan murah senyum dan ramah saya diwawancara. Singkat cerita selesai wawancara bertemu dengan beberapa anak muda lainnya yang antri membuat keinginan saya memulai kelas pengajaran lebih menggebu-gebu. Tahap awal dimulai dengan mengikuti rekoleksi dua hari, hari pertama jatuh pada hari Sabtu dan saya tidak bisa mengikuti rekoleksi karena masih bekerja. Hari kedua rekoleksi saya mengikuti diawali misa lalu dilanjutkan perkenalan sesama peserta baru dengan yang lain. Sesi pengajaran di kelas, mulai pada hari senin dan rabu selama 4 bulan. Selama pengajaran saya mendapatkan ilmu pengetahuan tentang Gereja dan pengertian lebih dalam lagi dari segi rohani. Hari demi hari dilalui sampai pada diakhir pengajaran kita dapat tugas pribadi kunjungan rumah kepada 5 orang teman dan tugas kelompok untuk kunjungan ke panti asuhan. Tiba waktunya di retret perutusan, kita mengikuti bersama-sama sesi demi sesi sampai di pembagian jas almamater. Sebelum dibagikan, kepala sekolah Shekinah, pak Heru memberikan semangat dan kalimat yang patut diingat baik-baik, seperti ini kata-katanya ā€œsetelah kalian menerima jas almamater ini bukan sebuah akhir perjalanan, melainkan ini merupakan awal tugas kalian diutusā€. Suasana haru dan sukacita mewarnai kami setelah retus, semangat yang masih ada itu kita lanjutkan di acara outbound. Di outbound tersebut kita dibagi kelompok berdasarkan 7 sifat kepribadian.

Saya telah memilih untuk ikut kelompok 3 tetapi karena kepenuhan saya masuk kelompok lain yang isinya perempuan semua. Tiap acara tiap permainan saya lewati dengan perasaan dalam hati ā€œini bukan diri gw yang sebenarnyaā€. Di malam terakhir kita semua dikumpulkan dilapangan untuk berkumpul melewati rintangan akhir, satu orang memegang lilin yang menyala dilingkari teman-teman yang lain. Kita diberi tugas untuk menjaga lilin tersebut agar tetap menyala sampai di garis finish. Strategi kita rundingkan dan tiba saatnya memulai, di tengah jalan lilin kami mati, kita mengulang lagi dari awal tanpa mengurangi semangat akhirnya kami semua mencapai garis finish. Puji Tuhan setelah saya mengikuti seluruh pengajaran dari awal-akhir diacara outbound tanpa satu halangan. Saya ikuti dengan niat dan sungguh-sungguh, alhasil saya mendapat poin-poin penting untuk direfleksikan ke kehidupan sehari-hari. Akhir kata, saya mengucapkan terima kasih kepada para pengajar di SEP, panitia SEP Mudika 12, dan Romo Chris Purba, juga tak lupa kepada teman-teman seperjuangan SEP Mudika angkatan 13 ini. Tuhan memberkati.

Yunita

ā€œWow elo ikut SEP? Udah tobat lo sekarang?ā€

ā€œAnak muda yang usianya masih produktif begini ikutan SEP? Mendingan nyari duit atau gak pergi hang out sama temen-temen.ā€

ā€œSEP itu apa sih?ā€

Hahahaā€¦ Begitulah kebanyakan komentar teman-teman ataupun orang yang saya kenal begitu mereka tau saya mengikuti Sekolah Evangelisasi Pribadi yang biasa disingkat SEP ini.

Yap, memang belum semua orang mengetahui apa itu SEP. Terutama kaum muda yang hidupnya masih dikelilingi dengan iman Katolik yang cetek, termasuk saya dulu yang juga belum tau apa sih SEP itu.

Mengikuti SEP karena ā€œdicemplunginā€ salah satu teman paroki dan ternyata teman-teman OMK dari paroki banyak yang mendaftar untuk mengikuti SEP yang bertempat di Shekinah Duta Merlin ini. Tempatnya dekat dengan rumah, banyak teman paroki yang ikut, tunggu apalagi.. langsung saya mendaftarkan diri.

Dan ternyata oh ternyata.. Mengikuti SEP ini tidaklah mudah! Jatuh bangun pun dialami oleh kami SEP Mudika angkatan ke 13. Selama 5 bulan kami ditempa oleh kedisiplinan waktu pembelajaran di hari Senin dan Rabu, perbedaan pendapat oleh teman sekelas, hingga sukacita kemenangan yang kami dapatkan ketika inaugurasi kelulusan. Perbedaan pendapat atau adanya masalah itu biasa, tetapi bagaimana caranya agar kita tetap berbela rasa terhadap satu sama lain untuk menyelesaikan masalah yang ada. Itulah salah satu yang kami pelajari di SEP ini.

Belum semua orang seberuntung kami dan merasakan kebahagiaan di SEP ini. Rasa kebahagiaan ini ingin kami salurkan kepada orang lain untuk menghilangan rasa haus kami akan kebahagiaan ini. Hingga timbul suatu pertanyaan dalam diri saya ā€œMengapa orang-orang terdekat saya, sahabat, keluarga belum mengikuti SEP dan bahkan ada yang belum tau dengan adanya SEP?ā€ Dan saya yakin, jawaban atas pertanyaan tersebut adalah ā€œKarena saya dan teman-teman saya ingin mengajak, membagikan rasa kebersamaan dan kebahagiaan ini kepada orang-orang yang ada di sekitar saya untuk mengikuti Sekolah Evangelisasi Pribadi ini.ā€

No Comments

Post a Comment